Search Konten In This Blog

Kumpulan Cerpen 2 : Taring Singa

Taring Singa
Oleh Bayu Zane

           Aku hanya seorang yang tidak mengerti untuk apa sebenarnya spesiesku diciptakan, bahkan kebanyakan dari sisi yang berlawanan dari pemikiran-pemikiran dasar. Orang berpendapat bahwa aku hanyalah seorang yang berkelakuan buruk dan ganas, pemalas, berlagak layaknya seorang pemimpin, dan sombong.
           Mereka tidak pernah ingin memahami secara logika dari sisi yang berbeda dan hanya mementingkan ego mereka pribadi saja. Tapi itulah kenyataan hidup, kebanyakan penjabaran logika berasal dari sebatas opini belaka, hasil dari pemikiran yang menurut sang pemilik ucapan adalah hal yang logis dan beradab. Bukankah yang seperti itu hanya dapat diartikan sebagai sebuah argumen tak mendasar?
           Suatu ketika aku sedang berjalan mencari buruan, seperti yang biasa dilakukan setiap harinya, mengintai di balik semak menunggu kawanan rusa atau sekelompok babi hutan datang mendekat, aku mengendus daun berembun, setiap inchi tanah, dan jejak kaki di depanku, layaknya seekor anjing kelaparan, karena hampir dua hari ini aku tidak makan. Dua malam yang lalu hasil buruanku baru saja dicuri oleh sekelompok sialan yang hanya berani main keroyokan. Mereka mencuri satu-satunya persediaan yang tersisa. Menyisakan hanya sebuah tulang dada rusa yang jelas tidak mungkin untuk dimakan. Bahkan jika tulang itu kubumbui sedemikian rupa tetap tidak akan memuculkan cita rasa apapun.
           Aku membutuhkan nutrisi lebih, perut sudah mulai mengamuk dan mengering, seperti sebuah gendang yang ketika dipukul berbunyi. Nyaris tidak bersisa apapun di dalamnya, bahkan tulang belulang mulai tampak jelas menyumbul dari balik kulit. Dan bahkan tanpa perlu diberitahupun orang lain pasti akan menebak berapa lama perut itu sudah kosong.
           “Apa yang kau lakukan di sini?” sebuah suara dari belakang menghampiriku.
           Aku menoleh, ternyata Dorba, sang kera berbulu domba, ia berkacak pinggang memperhatikan penampilanku.
           “Apa kau ingin mencoba sesuatu yang lain? Mungkin seperti marshmallow bakar, atau sedikit ramuan jahe?” Tanyanya mengejek sambil memandang dalam.
           “Kau tahu aku tidak menyukai itu semua, apalagi yang berbau menyengat seperti Jahe, dan lagi, aku berdarah panas, tanpa ramuan itu saja tubuhku sudah sangat kepanasan.” Jawabku sambil terus berkutat dengan perburuanku.
           “Kalau begitu, bagaimana jika main ke kediamanku? Kebetulan keluarga sedang tidak ada di rumah sekarang, mereka sedang berada di luar daerah untuk memperluas wilayah buruan. Hanya ada aku dan Meli…” ajak Dorba sedikit memaksa.
           “Aku sedang tidak ingin berpesta, saat ini aku benar-benar butuh daging untuk mengisi perut,” jawabku kembali tanpa menoleh ke arahnya.
           “Datanglah, kau tidak akan menyesal… kalau soal daging, walau keluarga kami vegetarian, kami tetap memiliki stok daging di rumah, biasa untuk para tamu sepertimu yang datang… jika kau berniat datang, temui aku di Malmo avenue sekitar jam dua siang. Aku ada janji di sana dengan seorang teman…” lanjutnya.
           Aku hanya diam berpikir keras, sebagian dari diriku menolak tawaran itu, apalagi tidak ada yang tidak mengenal keluarga Dorba. Ayahnya yang seorang usahawan kaya dari jenisnya. Orang bilang keluarga Dorba memang sudah ditakdirkan untuk menjadi demikian. Bulu badan mereka putih dan lebat. Sangat berbeda dengan yang lain dari jenis mereka, ciri khas kebangsawanan sudah terlihat jelas. Terkadang itulah yang membuat mereka sedikit disegani dan terkesan angkuh.
Tapi sebagian diriku yang lain juga sangat menginginkannya, lalu dengan penuh pertimbangan pada akhirnya tawaran itu kuterima.
           “Baiklah aku akan datang, bagaimana caranya menghubungimu?” aku membalikkan badan ke arah Dorba, ia nyaris menghilang di balik semak belukar yang tinggi menjulang.
           “Kunjungi aku di ujung jalan, aku akan menghampirimu.” Senyumya seraya membalikkan badan kembali ke arahku.
           Siang itu sesuai janji aku datang ke perempatan jalan. Tidak ada siapapun di sana kecuali beberapa ekor katak yang sedari tadi melompat tak jelas, seperti hendak mencari sesuatu tapi juga bingung dengan apa yang dicari.
           “Kau datang juga,” sahut sebuah suara dari kejauhan. Dorba datang menghampiri, dia memakai setelan jas rapi berwarna putih, berpadu dengan warna bulu di sekujur tubuhnya yang berwarna seputih kapas membuatnya lebih mirip seperti sebuah boneka putih yang berjalan.
           “Mana temanmu?” tanyaku penasaran, aku melirik ke arah belakang Dorba tapi tak nampak satu orang pun di sana.
           “Ia tidak jadi datang, katanya.” Jawabnya dengan mimik cemberut. Seakan itu adalah pertemuan yang sangat penting.
           “Memang kalau boleh tahu siapa temanmu itu?”
           “Leir,”.
           Leir adalah seorang tua yang bertanduk amat panjang. Ia biasa disebut sebagai sebagai Bapak dari para Lembu. Dia adalah orang penting di Malagasy. Oh ya, aku belum menceritakan tentang daerahku kepada kalian.
           Itu adalah surga bagi semua spesies makhluk hidup di muka bumi, bahkan segala jenis tumbuhan hidup subur di dalamnya. Malagasy adalah tempat yang aman dan tentram. Sangat jarang ditemukan hal-hal aneh dan mengerikan seperti pencurian dan pembunuhan, bahkan di gang-gang seperti Arnes dan Fall. Sebutan untuk dua gang tersempit, tersunyi dan paling jarang dilalui. Seperti gang lainnya, keduanya diselimuti oleh sejenis lumut tua yang menjalar pada tiap sisi jalan.
           “Leir, Bapak tua itu? Ada janji apa dengannya?” tanyaku penasaran.
           “Bukan hal penting, ia punya sesuatu yang aku inginkan sejak dulu. Dan berjanji akan memberikannya hari ini. Tapi sepertinya terjadi kendala di Safana Hill. Perahunya rusak terhantam ombak sungai. Sedang tidak mungkin untuknya berjalan melalui jembatan yang sudah reot itu...”
           Jembatan yang dimaksud adalah Pearl Gate yang menghubungkan Lembah Safana dan Shore. Malagasy adalah daerah yang sangat luas. Hampir sebagian besar wilayahnya ditutupi hutan dan Padang Rumput.
           “Jika ia sudah tahu perahunya rusak kenapa membuat janji?” Aku merasakan hal ganjal dari cerita Dorba. Terdengar seperti mengada-ada.
           “Ia baru tahu pagi ini, saat hendak kemari, pada akhirnya hanya secarik surat dari Mali ini yang kuterima.” Keluh Dorba masih cemberut
           “Mali.. kadal sialan itu?” aku semakin tidak yakin dengan cerita Dorba. Banyak yang tidak memercayai Mali. Ia lebih sering bergurau terhadap hidupnya dan semua orang.
Dia pula penyebab buruan-buruanku dicuri oleh anjing-anjing tidak tahu diri itu, membuatku harus mengemis kepada Dorba hanya untuk makan. Jadi Mana mungkin Mali sampai seperduli itu mengantarkan pesan yang begitu jauh dari Pak Tua. Tapi mungkin saja itu memang benar. Lagipula apa urusanku dengan mempertanyakan kebenaran semua cerita Dorba barusan, yang aku tahu sekarang perut ini lapar dan ingin diisi sesuatu.
           “Jadi hari ini di tempatmu benar - benar kosong?”
           “Ya, hanya ada aku dan adikku Meli, juga tukang kebun kami. Tapi yakinlah, di meja makan hanya akan ada kita bertiga saja.” Ujarnya bermaksud bergurau.
           Aku hanya tertawa kecil, untuk menghargai Dorba. Saat ini aku benar-benar tidak peduli dengan apapun kecuali mungkin jika perutku sudah penuh. Rasanya seperti harga diri dan kewarasanku mengalami degradasi memalukan hanya karena rasa lapar yang bukan main. Benar kata orang, lapar bisa membuatmu menjadi orang lain. Tapi uintung saja saat ini kewarasanku masih bisa dikendalikan. Karena hampir saja Dorba aku makan.
           “Kita sampai” Sahut Dorba tersenyum mempersilahkan masuk.
           Rumahnya lumayan luas. Bahkan pintu gerbangnya sangat tinggi dan terlihat kontras dengan ukuran badan Dorba yang hanya setinggi Tujuh puluh sentimeter.
           “Masuklah, anggap saja rumah sendiri.” Ujar Dorba sambil melambaikan tangan kepada Meli, adik perempuannya itu menyambut kedatangan kami dengan pakaian ala Wanita Eropa. Dress biru panjang dan pita kecil merah muda di rambut sebelah kiri.
           “Kakak dari mana saja, makanan sudah siap dan aku sudah sangat lapar karena menunggu kedatangan kakak.” Manja Meli.
           “Pertemuan hari ini dengan Pak Tua batal, oh ya, perkenalkan ini Tanora, teman kakak.” Ujar Dorba memperkenalkan diriku pada Meli.
           Meli hanya bersembunyi di belakang kakaknya. Antara ketakutan seakan sedang memandangi hantu.
           “Tenang saja, dia sudah kujinakkan, jadi kau tidak perlu takut.” Canda Dorba diriingi cengiran. Aku bergumam sendiri mendengar bahasanya.
           “A-aku Meli...” Pelan-pelan Meli mengangkat tangannya bermaksud berjabat tangan denganku.
           “Tanora...” Jawabku tersenyum sembari membalas jabatan tangan Meli.
           “Mari masuk, sepertinya Tuan Tanora sudah lapar, kita makan sama-sama saja.
           Dorba benar-benar tidak memahami bagaimana menghargai orang lain. Sebenarnya aku sudah tahu akan seperti ini jadinya, akan tetapi apa mau dikata. Aku harus mengalah atau mati kelaparan sekarang.
           Ruang Makan keluarga Wenstein sangat besar. Seperti sebuah aula. Semua perabotannya berasal dari batuan alam dan kayu. Di daerahku belum ada listrik, jadi sebagai ganti penerangan kami biasa menggunakan obor atau lentera.
           Di tengah ruangan makan terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang terbuat dari kayu mahoni yang sangat indah. Itu adalah meja makan keluarga Wenstein, aku tidak pernah menyangka bisa makan satu meja dengan salah satu anggota keluarga konglomerat tersebut.
           “Silahkan,” Ujar Dorba setelah makanan dihidangkan.
           “Hanya kita bertiga?” Tanyaku penasaran. Di meja sebesar itu hanya ada kami saja. Sedangkan Makanan yang dihidangkan seperti untuk banyak orang. Meli yang memasaknya. Lalu kenapa ada daging? Bukankah Meli tidak tahu akan kedatanganku? Apa mereka juga sesekali makan daging?
           “Daging merah kiriman dari Duke Lahor. Belum pernah kami sentuh semenjak kedatangannya sebulan lalu, silahkan dicoba.” Sahut Dorba sembari menyodorkan potongan daging lembu kepadaku.
           Duke Lahor adalah sebutan untuk raja yang menguasai 70 persen wilayah Lahor. Sebuah negara di selatan Malagasy. Kabarnya hubungan Duke sangatlah erat dengan keluarga Weinstein. Mereka biasa bercengkrama bersama dan keluarga Weinstein termasuk salah satu Bangsawan negeri Malagasy yang dipersilahkan menghadiri pesta dan jamuan Istana.
            “Terima kasih, oh iya kau belum menceritakan tentang orang tuamu, bagaimana kabar mereka? Apa kegiatan mereka saat ini?” Tanyaku memulai pembicaraan.
           “Seperti kabar burung selama ini, kurasa kau juga sudah tahu.” Jawab Dorba tersenyum. Ia mungkin merasa pertanyaanku kali ini hanya bentuk lain dari pertanyaan retoris yang tidak memerlukan jawaban.
           “Jadi begitu. Tapi bagaimana dengan studimu? Meli? Apa kau menerima ini semua? Bukankah saat ini kau juga masih sekolah?” aku mencoba memulai percakapan dengan Meli yang sedari tadi hanya diam memandangi kami berbicara.
           “Tidak masalah kak. Ini seperti sudah menjadi rutinitas. Hidup tanpa orang tua yang selalu sibuk dengan bisnis dan pekerjaan-pekerjaan mereka, kami paham maksud papa-mama, untuk kebahagiaan kami dan setidaknya ada harta warisan yang ditinggalkan jika mereka sudah tiada.” Jawab Meli agak ketus.
           “Meli… hentikan! Kenapa berbicara seperti itu?” Dorba merasa adiknya sudah keterlaluan. Ia tidak layak berbicara seperti itu, apalagi kepada orang luar.
           “Tidak apa Dorba, aku yang salah menanyakan hal tersebut. Tidak seharusnya aku bertanya demikian. Meli, Dorba, maafkan aku. Aku sungguh menyesal.”
           “Baiklah, ayo kita mulai makan.” Sahut Dorba mengakhiri percakapan. Ia menyendok cah kangkung di depannya. Aku hanya berkutat dengan daging-dagingan. kurang begitu menyukai sayuran. Semua terasa pahit dan aneh di lidah.
           “Jadi, Nora.. apa kegiatanmu sekarang selain berburu?” tanya Dorba.
           “Tidak ada, hanya berburu. Aku tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan.” Jawabku sambil terus menyuap potongan daging panggang di hadapanku.
           “Tidak ada hal yang spesial?”
           Aku menggeleng,”hm ya mau gimana lagi… karena pengangguran di kaumku aku dikucilkan. Mereka bahkan enggan untuk bergaul. Sudah jadi suatu penghargaan kamu masih mau berteman.”
           “Jangan sungkan, kami bukan bagian dari kaummu, jadi bukan masalah kurasa…” Ujar Dorba tersenyum.
           “ha-ha… jadi maksudmu jika kau bagian dari mereka kau akan melakukan hal yang sama?” tanyaku sedikit sinis.
           Dorba terdiam sejenak, lalu tersenyum,”Kau hanya terlalu sentimental,”
           Makan malam berjalan sempurna sesuai rencana Dorba, entah Meli juga mengetahui hal ini atau tidak.
           Aku mulai mengantuk sehabis memakan banyak daging yang disajikan. Bumbunya yang begitu terasa di lidah mungkin yang telah membiusku. Kepala terasa amat berat. Mata pun seakan memaksa untuk tertutup. Kulihat dari bayang-bayang yang mulai kabur wajah Dorba dan Meli. Mereka tersenyum. Aku tertidur di meja makan. Tak sadarkan diri.
           Hanya suara-suara yang terdengar, entah milik siapa. Semua terasa berdengung di kedua telingaku.
           Dua besi yang saling digesekkan, Suara berat laki-laki, dan ada juga wanita. Yang perempuan sepertinya Meli. Ia berbisik kecil pada Dorba.  Entah apa yang mereka perbincangkan.
           “Selamat datang kembali…” Sahut Dorba, kulihat Meli dengan senyum jahatnya berdiri di belakang Dorba.
           “Apa yang kalian lakukan?” aku menemukan tubuhku telah terikat bak orang yang hendak disalib. Aku mencoba menggerakkannya tetapi percuma, kedua tangan dan kakiku diikat kuat pada salib terbuat dari kayu yang ditegakkan di halaman belakang rumah mereka.
           Tukang kebun mereka datang dengan peralatan Gergaji mesin, gunting dan paku-paku antara ukuran sedang hingga besar.
           “Apa yang mau kalian lakukan?” tiba-tiba saja dari kejauhan kulihat Leir, kakek tua bertanduk dengan mata merahnya muncul dari balik semak-semak tinggi. Ia tersenyum seakan telah memenangkan sesuatu.
           “Pak Leir? Tapi bagaimana bisa?”
           “Untuk mengurangi angka populasi Penduduk Malagasy, agar seseorang tidak berguna sepertimu menjadi berguna untuk sesama. Oleh karenanya, kami akan menjadikan kulitmu yang hangat dan kurus itu untuk pakaian dan selimut. Dan organ dalammu untuk pengobatan.”
           “Tidaaak!!” teriakku ketakutan.”Hei kita bisa membicarakan ini, jika kalian membutuhkan suplai aku bisa memberikannya…”
           “Ha-hahaha…. Kau pikir kau cukup berguna? Bahkan untuk memenuhi isi perutmu sendiri saja kau kesulitan, bagaimana mungkin kau bisa menawarkan tenagamu untuk penduduk Malagasy? Terima saja takdirmu. Setidaknya kau bisa memberikan sedikit manfaat dari tubuhmu .”
           “Apa kalian sudah gila?” Aku menggeram marah.
           “Silahkan saja kau berbicara apapun tentang kami, seseorang yang angkuh sepertimu tidak akan pernah mengerti kebaikan yang kami lakukan.” Bapak Tua Leir melanjutkan pekerjaannya mengasah alat-alat mengerikan itu di atas meja tepat di hadapanku.
           “jadi kalian sebut ini kebaikan?” ujarku, tak terasa keringat dingin mengucur dari dahi. Seluruh badanku mengigil saking takutnya dengan peristiwa yang akan segera menimpaku sekarang.
           “Aku tidak mengatakan ini benar, kami hanya menolongmu berbuat kebaikan, setidaknya sedikit dalam hidup kau pernah merendah, dengan pengorbanan yang akan kau berikan dapat memberikan dampak manfaat besar di seluruh Malagasy…” Jawab Pak Leir. Disambut dengan tawa besar  Dorba dan Meli.
           “Kalian sudah gila, benar-benar gila! aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian ini…”aku tiba-tiba saja menjadi sangat emosi. Meludahi wajah Pak Leir yang saat ini tengah memandangiku dalam dari dekat.
           “Jangan banyak bicara, silahkan balas dengan taring-taring busukmu itu jika kau memang sanggup melakukannya.” Dorba mempersilahkan Pak Leir memulai aksinya. Ia mengambil beberapa paku beton besar dan sebuah palu. Lalu, dengan sekuat tenaga dipakunya kedua kakiku bertindihan. Berpindah ke lengan kiri dan  kanan. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku, rasa sakit yang tidak mungkin dapat kulupakan jika saja aku lepas dari jerat penyiksaan ini. Ternyata apa yang  kupikirkan sedari siang tadi terbukti. Kecurigaanku terhadap cerita Dorba dan tingkah Meli yang aneh. Seharusnya aku tidak mengiyakan ajakan Dorba.
           Seandainya saja aku menolaknya, walau mungkin perutku akan kelaparan.. mungkin saat ini aku tengah tidur tenang di gubuk reotku. Walau dinginnya udara malam dan sangat sulit membuat api dengan keadaan tubuhku yang tidak memiliki jari – jari yang panjang menonjol layaknya Dorba, tetapi suasana itu  jauh lebih baik daripada apa yang kurasakan sekarang. Mungkin aku akan tidur lelap ditemani suara jangkrik malam dan semut yang berjalan rapi disekitarku. sepanjang ini, itulah hidup yang kujalani. Aku menyukainya, mengoyak setiap daging hasil buruanku sendiri di atas sebuah perapian. Aku mensyukurinya.
           Kreet!!
           “AAAGGH” gergaji mesin itu sedikit demi sedikit merobek setiap jengkal daging ku, Pak Leir melakukannya dengan sangat teliti dan lihai. Seakan-akan bukan kali pertamanya.
           Crooot!
           Darah menyembur keluar dari lengan yang dipotongnya, ia membiarkanku tetap sadar. Setiap potongannya tidak mengenai bagian vitalku, membuatku harus merasakan setiap inchi rasa perih atas kulit-kulit yang disayat rapi dan daging yang dipotong, kulihat dengan mataku sendiri dan kesadaran yang sudah semakin menjauh darah segar dan isi perut yang mencuat keluar.
           Perasaan dingin sedingin es mulai memenuhi kepalaku menjalar dari perut dan tangan yang sudah tidak berbentuk lagi. Lalu bahkan tanpa istirahat barang sejenak ia mulai mengambil hati dan kedua ginjalku menggunakan gunting ditangannya. Menjilat darah yang melumurinya dan  memperlihatkan dengan senyum kemenangan kepadaku, seakan mengatakan ‘Aku akan mengunyah ginjalmu’. Tidak ada lagi suara yang dapat keluar dari tenggorokan, napas mulai terasa sesak, tidak mampu lagi berbicara bahkan untuk mengatakan ‘tolong’.
           Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan membelah perutku menjadi dua bagian  atas dan bawah, kurasakan dengan penuh kesakitan dan napas yang semakin menjauh, pandangan yang berkunang-kunang, keringat dingin yang terus mengucur, seketika rasa sakit itu hilang. Pandangan di depanku telah gelap gulita. 
Inilah akhir hidup dari seorang Tanora. Taringnya tidak membuahkan perlawanan apapun, bahkan tidak pernah berguna hingga akhir hidupnya kecuali untuk mengunyah makanan. Bulu dan rambut kuning keemasan tidak menolong wibawanya, bahkan rasa lapar telah membutakan harga dirinya.
Mungkin mereka benar, aku adalah seorang yang angkuh dan kasar. Hanya karena keangkuhan itu aku tidak pernah berkaca dan sadar. Hingga akhirnya semua nikmat yang kuterima selama ini direbut dariku oleh seekor kera hina seperti Dorba yang mengandalkan kekuasaannya untuk bertindak sesuka hati, mungkin aku memang pantas menerima semua penderitaan dan rasa sakit ini.
Umpatan yang keluar begitu saja dari mulutku hanya karena tidak terima hasil buruan direbut oleh sekelompok anjing liar yang lapar. Menghina mereka semena-mena, padahal mungkin mereka melakukannya untuk anak-anak mereka. Aku yang tidak pernah memahaminya karena hidup sebatang kara. Lalu mulai mengeluhkan perbuatan mereka sebagai imbalan dari rasa lapar yang kurasakan beberapa hari ke belakang. Padahal itu semua adalah karena kemalasanku pribadi.
Tuhan, jika memang ini adalah akhir hidupku, maka tolong maafkan aku yang tidak berguna ini. Seandainya ada  kesempatan kedua, aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Mensyukuri setiap nikmat yang kau berikan.
Semua telah berakhir, angin berhembus kencang, entah mengapa aku merasakannya, padahal dengan semua rasa sakit sekarang tidak mungkin untuk menghiraukan bahkan untuk sebuah sengatan lebah raksasa.
Angin kembali berhembus, kali ini lebih kencang, dinginnya mengalahkan kucuran keringat di sepanjang leher hingga perutku yang mungkin telah bopong.
Sebuah cahaya putih bersih dari kejauhan mendekat. Aku masih terlena dengan  nyenyak tidur dan suasana gelap gulita ini, tetapi cahaya putih itu semakin dekat dan melebar.
“Tanora!” bisik sebuah suara.  Tiba-tiba saja aku menemukan diriku yang kurus kering tengah terbaring di bawah semak tinggi. Cahaya matahari masuk melalui celah dedaunan pohon rindang di atasku.
“Apa yang kau lakukan di sini?” suara itu mulai terdengar jelas, aku mengenalnya akrab. Itu suara Dorba.
“Ugh, apa yang terjadi?” tanyaku heran. Dorba tampak malah semakin kebingungan .
Aku baru teringat sedang mengintai buruan. Dorba menceritakan bahwa ia tengah lewat di sekitar sini dan menemukanku terkulai lemas. Ia berpikir bahwa aku pingsan.
“Apa kau sudah makan? Badanmu kurus sekali?” pandangan Dorba sejenak bolak-balik memperhatikan wajah dan perutku yang seperti sisir.
“Belum, beberapa hari ini…” jawabku singkat.
“Apa kau ingin mencoba sesuatu yang lain? Mungkin seperti marshmallow bakar, atau sedikit ramuan jahe?” Tanyanya mengejek sambil memandang dalam.
           “Kau tahu aku tidak menyukai itu semua, apalagi yang berbau menyengat seperti Jahe, dan lagi, aku berdarah panas, tanpa ramuan itu saja tubuhku sudah sangat kepanasan.” Aku heran bagaimana aku bisa berbicara demikian. Padahal kata-kata itu belum sempat kurangkai di otakku.
“Kalau begitu, bagaimana jika main ke kediamanku? Kebetulan keluarga sedang tidak ada di rumah sekarang, mereka sedang berada di luar daerah untuk memperluas wilayah buruan. Hanya ada aku dan Meli…” aku mulai menyadarinya. Apakah ini kenyataan? Atau hanya sebuah mimpi setelah kematian. Seperti di kisah-kisah bahwa ketika seseorang mati, arwahnya akan mengalami pengulangan kejadian hal yang membuatnya mati.
“Dorba bisa kau cubit aku?”  ujarku perlahan.
“Aku lebih senang menendang pantatmu yang tirus kurang daging itu.” Candanya.
“Aku serius!”
“Baiklah” ia mencubit dengan keras pipi kiriku. Ternyata ini kenyataan. Tapi bagaimana bisa, lalu kata-kata yang baru saja kuucapkan pada Dorba? Apakah ini sebuah peringatan?

“Bagaimana?”tanya Dorba menawarkan kembali dengan sedikit memaksa.
Aku melamun sejenak berusaha sadar. “tidak terima kasih, aku menyukai perutku yang se perti sisir ini, lagipula aku masih mempunyai taring untuk berburu sendiri. Maaf menolak kebaikanmu.” Dorba tersenyum mendengar ucapanku barusan. “Kenapa senyam senyum?” tanyaku.
“Tidak apa-apa, yasudah kalau memang begitu. Tapi kalau kau memang berminat untuk datang pintu rumahku akan selalu terbuka untuk orang sepertimu.” Ujarnya sembari pergi dan  menghilang diantara semak-semak tinggi.
Tuhan jika ini sebuah jawaban, maka aku hanya dapat berterima kasih. Aku mensyukuri taring ini, aku bersyukur atas naluri seekor singa yang kau anugerahkan padaku.

Diilustrasikan Oleh : Bayu Zane
Tanggal : 05 Mei 2016


Kumpulan Cerpen lainnya : 1

No comments:

Post a Comment

Back to top